Beli Kartu Perdana Bekas? Pikirkan 5 Hal Ini

Kamu suka gonta-ganti kartu perdana bekas demi menyiasati kuota internet murah meriah? Setelah membaca artikel ini barangkali kamu akan berpikir ulang untuk melanjutkan kebiasaan itu lagi.

Penggunaan SIM Card dari Kartu Perdana Bekas Memiliki Beberapa Risiko yang Perlu Diwaspadai | Sumber gambar : pixabay.com / Pexels

Meskipun terkesan lebih praktis karena tidak perlu melakukan registrasi nomor KTP dan nomor Kartu Keluarga (KK), serta mendapatkan paket kuota yang sudah langsung teraktivasi, namun menggunakan kartu perdana bekas sebenarnya cukup berisiko.

Terlebih bagi kamu yang mengedepankan privasi dan enggan menjadi korban dari ulah orang-orang tak bertanggung jawab yang bahkan tidak kita kenal samasekali.

5 Risiko Memakai Kartu Perdana Bekas

Pengguna kartu perdana bekas jamak kita temui dimana saja. Apalagi cukup banyak konter pulsa yang menjajakan kartu perdana bekas dengan harga terjangkau yang paket kuotanya cukup membikin mata silau.

Padahal kalau kamu tahu risikonya bisa bikin begidik dan ngeri-ngeri sedap dibuatnya.

#1. Dihubungi Orang Tak Dikenal

Bagaimana reaksimu saat ada orang tak dikenal yang tiba-tiba menghubungimu dan berlagak seolah kamu adalah teman lamanya? Merasa aneh dan risih, bukan?

Sebagian orang mungkin bisa mengacuhkan. Tetapi belum tentu dengan sebagian yang lain. Apalagi ketika “teror” dari orang asing tersebut terus berulang beberapa kali.

Salah-salah ketika kamu menanggapi dan terlarut dalam komunikasi yang tidak sehat seperti jerat penipuan, perselingkuhan, dan sejenisnya maka hal itu hanya akan melahirkan penyesalan saja.

Ilustrasi orang tak dikenal | Sumber gambar : pixabay.com / geralt

#2. Warisan Negatif Pemilik Nomor Sebelumnya

Kamu pernah berpikir tidak kenapa ada begitu banyak kartu perdana bekas yang terjual bebas di luar sana? Tidakkah terbersit kemungkinan bahwa salah satu atau beberapa dari sekian banyak nomor kartu perdana tersebut yang pemilik lamanya ternyata memiliki rekam jejak hidup negatif?

Situasi semacam itu bukan tidak mungkin terjadi. Bisa jadi gara-gara terjerat pinjol lantas nomor tersebut ditinggalkan oleh pemilik lamanya dan berakhir sebagai komoditas jualan kartu perdana bekas.

Atau semisal si pemilik lama pernah melakukan aksi iseng kepada orang lain dan lantas mengabaikan nomor tersebut hingga akhirnya berakhir menjadi SIM Card smartphone milikmu.

Secara tidak langsung kamu telah mewarisi masalah dari si pemilik lama. Terlepas hal itu kamu sadari atau tidak.

Syukur-syukur apabila tidak sampai terjadi apa-apa. Tetapi bagaimana jika sebaliknya?

Ilustrasi warisan negatif | Sumber gambar : pixabay.com / Alexandra_Koch

#3. Sasaran SPAM

Beberapa orang terkadang begitu loyal membagi-bagikan nomor teleponnya untuk mengakses beragam hal di internet. Sampai-sampai bermacam-macam iklan tidak jelas dan aneka rupa SPAM masuk dari mana saja.

Lantas si pemilik lama pun “membuang” nomor murahan tersebut karena tidak ingin terus-terusan menerima serangan SPAM tak berkesudahan.

Bukankah sial jikalau justru kamu yang harus menanggung SPAM padahal kamu sendiri tidak pernah tahu dan tidak bermaksud mengundang datangnya SPAM tersebut?

Ilustrasi SPAM | Sumber gambar : pixabay.com / geralt

#4. Masalah Identitas dan Tanggung Jawab

Nomor telepon pada kartu perdana bekas umumnya sudah teregistrasi tanpa harus didaftarkan kembali oleh pemilik barunya.

Dengan kata lain, nomor itu terdaftar sebagai identitas orang lain. Bukan identitasmu.

Padahal, kecenderungan seseorang untuk bertindak dengan identitas yang disamarkan cenderung ke arah perbuatan negatif.

Ambil contoh para hacker jahat yang gemar mengambil keuntungan dari memeras orang lain. Apakah mereka menampilkan identitas asli mereka? Tentu tidak.

Identitas yang sebenarnya dari diri sendiri akan membuatmu lebih bertanggung jawab ketimbang saat mempergunakan identitas milik orang lain.

Ilustrasi identitas | Sumber gambar : pixabay.com / geralt

#5. Risiko Keamanan Transaksi Nontunai

Di era digital seperti sekarang, peran nomor telepon sangatlah krusial untuk melakukan verifikasi data dan informasi elektronik. Mulai dari email, media sosial, sampai dengan akun fintech.

Aktivitas transaksi nontunai umumnya terdaftar atas nomor telepon tertentu. Akun GoPay misalnya. Nomor telepon kamu akan sekaligus menjadi nomor rekening virtual yang akan menjadi alat transaksi selama kamu menggunakan suatu aplikasi fintech.

Dengan menggunakan nomor telepon dari kartu perdana bekas bukankah itu memiliki risiko keamanan yang cukup besar terhadap akun fintech yang kamu miliki? Bukankah si pemilik lama punya kemungkinan untuk mengintip akunmu?

Kalau akun fintech-mu tidak ada isinya barangkali tidak perlu khawatir ya. Meski tetap harus ditelisik lagi apa saja gerangan potensi bahaya lain yang mengancam seiring  potensi duplikasi informasi dari orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap nomor telepon dari kartu perdana bekas itu.

Ilustrasi keamanan transaksi | Sumber gambar : pixabay.com / mrganso

Waspadalah..! Waspadalah..!

Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan.”

Masih ingat petuah legendaris dari Bang Napi itu? Iya, kesempatan itu sangat mungkin kita berikan kepada orang-orang tak bertanggung jawab melalui penggunaan kartu perdana bekas.

Bukan bermaksud menakut-nakuti, hanya saja disini kita berbicara perihal risiko dan kemungkinan yang bisa terjadi dibalik penggunaan kartu perdana bekas dalam kehidupan sehari-hari.

Terlebih era digital semakin memungkinkan tingkat kejahatan yang lebih canggih terjadi. Sementara tidak setiap orang memiliki kemampuan mumpuni untuk menangkal segala risiko buruk yang ada.

Satu-satunya jalan adalah melalui kewaspadaan terhadap segala kemungkinan.

Salam hangat.

Agil Septiyan Habib

Share this article :

50 thoughts on “Beli Kartu Perdana Bekas? Pikirkan 5 Hal Ini”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top