Toko Kelontong Naik Kelas

Tidak terasa empat tahun berlalu ibu mertua saya menjalankan usaha jualan nasi uduk di depan rumah. Emak, demikian saya memanggil beliau, sebelumnya berjualan di sebuah warung dekat SMP kampung sebelah. Tapi, terpaksa tutup pada tahun 2019 lalu gegara pandemi korona mengganas.

Toko Kelontong memerlukan strategi pengelolaan yang baik | Sumber gambar : pixabay.com / Tariq786

Setiap hari Emak bangun tidur dan mulai beraktivitas selepas adzan subuh berkumandang. Ba’da sholat subuh, beliau biasanya memasak nasi uduk, membuat gorengan, dan beberapa menu lain untuk dijajakan pada lapak dagangannya. Hingga sekitar jam enam pagi barang dagangan Emak  sudah siap tersaji untuk para pembeli.

Emak biasanya berbelanja semua kebutuhan jualan pada sore atau malam hari sebelumnya. Sehingga keesokan paginya beliau tinggal memasak saja tanpa harus belanja terlebih dahulu.

Namun, adakalanya beliau lupa membeli satu atau dua barang seperti kertas bungkus nasi atau plastik untuk wadah bungkusan nasi uduk. Sehingga terkadang saya mesti bergegas ke toko kelontong di kampung sebelah untuk mencari kertas nasi eceran atau barang-barang lain yang dibutuhkan Emak.

Sebenarnya, ada juga toko kelontong di dekat rumah Emak. Akan tetapi, beliau lebih suka membeli di toko kelontong kampung sebelah karena pemiliknya adalah adik kandungnya sendiri.

Menurut Emak, ketimbang repot-repot dikasihkan ke orang lain, lebih baik ia belanjakan kepada sesama saudara saja.

Toko Kelontong Bu Haji

Bu Haji, begitu biasanya kami memanggil adik Emak, yang tidak lain adalah pemilik toko kelontong di kampung sebelah itu. Dari gelarnya orang-orang mungkin beranggapan bahwa toko beliau pastilah besar. Seorang pedagang sukses yang berhasil mengantarkannya menunaikan ibadah haji.

Dan memang, keluarga Bu Haji tergolong orang terpandang di kampungnya. Mereka ini bisa dibilang sebagai orang paling kaya di kampung tempat mereka tinggal. Tokonya besar dan laris. Punya mobil ketika tetangga yang lain untuk punya sepeda motor saja susah. Tanahnya ada dimana-mana.

Namun, itu dulu. Karena yang tersisa saat ini hanyalah sepetak toko berukuran 2.5 x 2.5 meter saja. Dengan dua etalase membentuk huruf L yang isinya terlihat melompong disana-sini. Lusuh dan berdebu pada beberapa bagian. Sangat identik dengan tempat yang kurang terawat.

Beberapa jenis jajanan terlihat berbaris di atas etalase depan toko yang jumlahnya jelas kalah jauh dibandingkan pajangan retail modern yang terpampang megah di seberang jalan depan rumahnya.

Meskipun terlihat minim barang dagangan, tapi setidaknya beberapa barang yang dibutuhkan Emak masih tersedia disana.

Sebenarnya, beberapa kali istri saya menggerutu karena harga jual barang di toko kelontong Bu Haji ini terkesan lebih mahal dibandingkan toko-toko sekitaran. Namun, sepertinya hal itu tidak sampai membuat Emak keberatan.

Terlebih, bagaimanapun juga Bu Haji tetaplah bagian dari keluarga Emak yang kini mesti hidup menjanda selepas sang suami wafat beberapa tahun silam. Sekarang beliau hanya hidup ditemani dua orang putra yang terkesan cuek untuk mengurusi tetek bengek jualan ibunya.

Saat almarhum sang suami masih sehat, toko kelontong milik Bu Haji tersebut sangatlah ramai oleh pembeli. Dulu, terdapat dua petak toko yang dua-duanya penuh barang dagangan. Bahkan semasa istri saya masih kecil ia sempat bekerja sampingan disana untuk mendapatkan tambahan uang jajan.

Berkat usaha toko kelontong yang maju itulah perekonomian keluarga Bu Haji berjaya. Bisa memberi berhektar-hektar tanah. Juga berhasil mengantarkan Bu Haji dan suaminya ke tanah suci Mekah.

Sesuatu yang tampaknya berbalik 180 derajat dengan kondisinya sekarang. Yang ironisnya, ketika toko kelontong milik Bu Haji tampak mengecil, beberapa toko lain yang terletak tidak jauh dari tokonya justru tumbuh membesar. Roda kehidupan seakan sudah berputar.

Roda kehidupan yang dulunya berada di atas sekarang berputar bawah. Sebaliknya, yang dulu di bawah kini berputar ke atas.

Meskipun ada selentingan kabar bahwa keluarga Bu Haji ini “dikerjain” orang sehingga menjadikan bisnis keluarganya semakin tergerus, saya sendiri tidak mau menerka-nerka perihal keterpurukan usaha keluarga Bu Haji ini.

Apakah memang benar disebabkan oleh hal-hal yang irasional atau bisa jadi karena telah terjadi salah kelola usaha.

Karena pada masa jayanya dulu toko kelontong tersebut memang lebih banyak dikelola oleh almarhum sang suami ketimbang oleh Bu Haji.

Sehingga ketika suaminya wafat sedangkan kecakapan Bu Haji dalam berbisnis masih pas-pasan atau bahkan rendah maka pengelolaan usaha toko kelontong keluarga Bu Haji pun menjadi tidak maksimal.

Dan kalau kita diperhatikan sebenarnya mekanisme pengelolaan toko kelontong pada umumnya memang cenderung hanya mengandalkan feeling  dan ilmu kebiasaan yang tidak ada landasannya sama sekali. Bahkan lebih banyak lagi yang coba-coba bermodalkan melihat orang lain saja.

Prosedur Toko Kelontong

Coba tebak usaha apa kira-kira yang paling mudah terlintas di pikiran saat ingin memulai usaha sendiri di rumah? Iya, membuka toko kelontong.

Di kampung-kampung ataupun di perumahan padat penduduk hampir setiap beberapa meter bisa dengan mudah kita jumpai rumah-rumah yang membuka lapak toko kelontong. Jualan seperti beras, minyak, jajanan, gula, dan beberapa jenis kebutuhan harian menjadi primadona.

Sayangnya, setiaptoko kelontong tersebut umumnya beroperasi sebelas dua belas antara satu dengan yang lain.

Belum tentu ada toko kelontong yang rela repot-repot “meneliti” jenis-jenis barang apa saja yang paling ramai terjual di tokonya. Apalagi sampai mengulik total penjualan untuk semua jenis barang yang terpajang pada kurun waktu tertentu.

Seorang pemilik toko kelontong belum tentu ingat barang-barang apa yang berhasil dijualnya hari ini, kemarin, atau pada waktu-waktu yang lain. Hal ini berbeda dengan retail modern yang memang melakukan pendataan secara terorganisir dari waktu ke waktu. Bahkan sampai pada jam-jam tertentu saja mereka bisa melihat produk apa saja yang terjual.

Memang, tidak adil rasanya apabila kita membandingkan “prosedur” pengelolaan toko kelontong pada umumnya dengan retail-retail modern yang sudah memiliki prosedur operasi jelas.

Namun, apabila toko kelontong tradisional ingin bisa terus eksis dan bisa menikmati sebanyak mungkin remah-remah bisnis retail yang belakangan semakin dikuasi oleh alfamart dan indomart, maka memiliki mekanisme pengelolaan usaha yang jelas harus dilakukan.

Mengatur Skala Prioritas Belanja Barang

Sebenarnya ada cukup banyak aspek yang mesti diperhatikan dalam mengelola toko kelontong agar tidak terkesan asal jalan saja. Salah satunya perihal memilih barang yang hendak dipajang dan kapan harus melakukan aktivitas belanja kembali juga perlu diperhatikan.

Dengan modal yang terbatas, sangatlah tidak bijak apabila toko kelontong sederhana berbelanja barang dagangannya secara acak. Hal itu cuma akan menghabiskan modal tanpa adanya imbal balik yang sepadan.

Skala prioritas perlu ditentukan untuk memilih barang-barang apa saja yang harus dibeli dan mana yang tidak. Apa yang harus dibeli dengan jumlah banyak, mana yang cukup dalam jumlah sedikit, dan apa saja yang tidak perlu dibeli.

Dalam hal ini, biasanya pemilik toko kelontong akan melakukan belanja harian ke grosir untuk mendapatkan sejumlah barang yang menurut mereka anggap perlu untuk mengisi ulang stok barang dagangan di toko.

Dan sangat mungkin aktivitas itu dibarengi dengan aksi membeli barang-barang yang sebenarnya masih bisa dialihkan pada waktu yang lain. Sehingga pada saat itu alokasi belanja bisa diperuntukkan ke produk lainnya yang punya peluang lebih besar untuk cepat terjual.

Menjaga stok beras pada kisaran 20-30 kilogram sehari terbilang masuk akal ketimbang menjaga stok pulpen hingga puluhan kotak. Karena tidak saban hari toko kelontong kedatangan pembeli pulpen dibandingkan pembeli beras.

Bukan tidak mungkin juga antara satu toko kelontong dengan toko kelontong yang lain memiliki tingkat minat pembeli yang berbeda untuk kategori barang tertentu. Misalnya, toko Bu Haji sering menjadi opsi pembeli di sekitar untuk membeli rokok, makanan ringan, atau kopi sachet dibanding toko seberang jalan yang banyak diminati untuk membeli beras kiloan, telor, dan sebagainya.

Setiap pemilik toko kelontong perlu mengetahui “keunggulan” dari toko kelontongnya. Produk mana yang fast moving dan mana yang slow moving. Dengan begitu maka operasional toko bisa berjalan secara lebih efektif dan efisien.

Biarpun modal sedikit dan dagangan terbatas, tapi perputaran uang bisa terus terjadi tanpa terganggu adanya modal macet gegara jenis barang tertentu yang terlanjur dibeli namun sukar terjual.

ROP Toko Kelontong

Toko kelontong mungkin sering dipandang sebagai usaha rumahan biasa. Anggapan itu memang tidak salah, tetapi sebenarnya kurang tepat juga.

Menganggap toko kelontong sebagai usaha rumahan biasa kerapkali menjadikan pengelolaannya mengalir pasrah tanpa arah dan strategi. Padahal, jika sebuah bisnis ingin naik kelas atau setidaknya mempertahankan pencapaian yang sudah ada maka itu memerlukan langkah dan tindakan.

Dalam konteks ini, toko kelontong sederhana seperti milik Bu Haji setidaknya perlu menerapkan konsep Reorder Point (ROP) yang bertujuan untuk mencari tahu timing  yang tepat dalam hal waktu dan kuantitas pengelolaan operasional toko.

Mekanisme ROP ini saya urutkan dalam beberapa langkah berikut :

Pertama, Mengenal tren penjualan produk. Dalam hal ini setiap toko kelontong hendaknya mencari tahu atau mendata pola ketertarikan pembeli terhadap produk atau barang-barang yang mereka jajakan di toko.

Produk A terjual berapa, produk B berapa, dan seterusnya. Pendataan dilakukan setiap hari dalam kurun waktu tertentu, dan diperiksa setiap satu minggu, dua minggu, satu bulan, dan seterusnya.

Ini bertujuan untuk mengetahui tren penjualan produk dari waktu ke waktu sehingga bisa diperoleh kesimpulan terkait kuantitas penjualan untuk masing-masing produk yang kita jual setiap hari, minggu, bulan, atau bahkan tahun.

Kedua, Mendata Posisi Stok Barang dan Rata-rata Penjualan. Bagi pemilik toko kelontong, mengetahui jumlah barang yang mereka jual adalah suatu keharusan. Sedangkan saat ini masih cukup sering menjadi kebiasaan dimana para pemilik toko kelontong baru mengetahui stok barangnya habis ketika sedang ada pembeli yang membutuhkannya.

Kondisi tersebut mengakibatkan hilangnya potensi penjualan (lost sales)yang ironisnya sering diremehkan. Seolah-olah barang dagangan habis adalah wajar-wajar saja. Seolah-olah pembeli gagal memperoleh sesuatu yang hendak dibeli memang lumrah.

Padahal seharusnya, seorang pemilik toko kelontong harus sudah tahu sedari sebelumnya dan sudah bersiap mengisi kembali stok jikalau memang barang tersebut punya potensi penjualan cukup baik.

Ketiga, Menentukan Titik Stok Berbelanja Kembali. Boleh-boleh saja berbelanja stok barang jualan di toko kelontong setiap hari. Tapi, jika kita bisa mengelolanya secara lebih efisien maka akan banyak penghematan yang dilakukan.

Untuk sekali perjalanan berapa biaya bensin yang harus dikeluarkan? Jikalau belanjanya sedikit akan meningkatkan biaya distribusi logistik. Sepintas hal ini tampak remeh. Namun, jika dilakukan berulang-ulang bukan tidak mungkin akan menyita nominal yang lumayan.

Dalam hal inilah kita perlu menentukan titik stok yang menjadi alarm bagi pemilik toko kelontong yang akan menentukan apakah mereka perlu berbelanja atau tidak. Kalaupun berbelanja kira-kira barang apa saja yang diperlukan dengan jumlah berapa.

Misalnya, hari ini ada empat item yang perlu belanja untuk mejaga stok aman selama beberapa waktu ke depan.

Keeseokan hari pun perlu direview kembali apakah kegiatan belanja hari itu masih diperlukan atau tidak. Dan hal ini sangat bergantung pada penjualan yang terjadi di hari kemarin.

***

Ada alasan mendasar terkait mengapa toko retail modern senantiasa mencatat setiap transaksi yang mereka dapat. Bukan sekadar untuk mengetahui jumlah transaksi yang terjadi setiap hari, atau sekadar untuk menghitung untung rugi, melainkan itu juga bagian dari upaya merancang strategi.

Biarpun toko kelontong tradisional kebanyakan dikelola secara konvensional, akan tetapi mulai sekarang mari kita mencobanya dengan taraf pengelolaan yang lebih baik. Lebih memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin selama ini kita pandang remeh dan dianggap tidak memiliki dampak apapun terhadap kemajuan usaha.

Jikalau tujuan kita membuka toko kelontong adalah untuk mendapatkan penghasilan, berbisnis demi keuntungan, maka mulailah peduli dengan strategi. Dengan konsep ROP ini adalah salah satu caranya. 

Maturnuwun.

Agil Septiyan Habib

NB : Apabila ingin membaca tulisan saya yang lain diluar bahasan mengenai perencanaan operasional Anda bisa melihatnya juga disini atau disini.

Share this article :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top